Suasana ruang kelas di SMK Negeri 4 Payakumbuh pada Kamis, 16 April 2026, tampak berbeda dari biasanya. Bukan sekadar belajar teori, puluhan siswa kelas XII terlihat serius menatap layar laptop mereka. Jemari mereka lincah menggerakkan mouse, memotong gambar, menyusun adegan, dan menyesuaikan suara. Hari itu, mereka tidak hanya belajar—mereka sedang menciptakan karya.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang diinisiasi oleh Program Studi Jurnalistik Islam dan berkolaborasi dengan Program Studi Sistem Informasi UIN Mahmud Yunus Batusangkar. Pelatihan teknik editing video ini menjadi tindak lanjut dari kerja sama yang sebelumnya telah disepakati, sekaligus menjadi ruang nyata bagi siswa untuk mengasah keterampilan di bidang media digital.

Mengusung tema “Pelatihan Teknik Editing Video”, kegiatan ini dirancang tidak hanya sebagai transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai pengalaman belajar yang menyenangkan dan aplikatif. Para siswa dibagi ke dalam tiga kelas kecil, sehingga setiap peserta mendapatkan pendampingan intensif dari tim dosen yang hadir.
Di salah satu sudut kelas, seorang siswa tampak mengulang potongan videonya berkali-kali. Ia sedang berusaha menemukan transisi yang tepat untuk video vlog yang ia buat. “Biar lebih enak ditonton, Kak,” ujarnya singkat, tanpa melepaskan fokus dari layar. Di kelas lain, kelompok siswa tampak berdiskusi kecil, mencoba menyusun alur terbaik untuk video talk show mereka agar terasa lebih hidup dan komunikatif.
Berbeda dari pembelajaran biasa, materi yang diberikan langsung berorientasi praktik. Siswa tidak hanya mendengar penjelasan tentang teknik editing, tetapi langsung menerapkannya pada video yang telah mereka siapkan sebelumnya—mulai dari vlog hingga talk show. Mereka belajar bagaimana menyusun cerita visual, memilih potongan gambar yang tepat, hingga menambahkan elemen suara dan efek agar video menjadi lebih menarik.

Para dosen yang mendampingi tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator kreatif. Mereka berkeliling dari satu meja ke meja lain, memberikan arahan, koreksi, sekaligus apresiasi atas hasil kerja siswa. Interaksi yang terbangun terasa cair, menjadikan suasana belajar lebih hidup dan tidak kaku.
Kegiatan ini juga menjadi cerminan bagaimana dunia pendidikan mulai beradaptasi dengan kebutuhan era digital. Editing video, yang dulu dianggap keterampilan tambahan, kini menjadi kompetensi penting yang membuka peluang luas di industri kreatif dan media.

Di akhir sesi, beberapa hasil karya siswa ditampilkan di depan kelas. Tawa dan tepuk tangan mengiringi setiap video yang diputar. Bagi sebagian siswa, ini mungkin pengalaman pertama melihat karya mereka diapresiasi secara langsung. Namun dari sinilah, kepercayaan diri itu mulai tumbuh.
Melalui kegiatan ini, kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah tidak hanya berhenti pada kesepakatan formal, tetapi benar-benar hadir dalam bentuk pengalaman belajar yang bermakna. Bagi para siswa, hari itu bukan sekadar pelatihan—melainkan langkah awal untuk mengenal dunia kreatif yang mungkin akan mereka tekuni di masa depan. (RM)